Hmmmm…..ini adalah ff debut perdana ku. Mungkin ceritanya rada gak jelas. Tolong di maklumin aja yah. Soalnya aku gak bakat nulis ff. Ini aja dengan modal super nekat aku nulis ini ff. Tapi kalo aku baca sendiri ff ku, mirip sinetron Indonesia yang ceritanya gaje yah. -_-
Mohon di baca yah ff-nya trus kasi kritiknya biar aku bisa nulis ff yang lebih baik. Tapi jangan pedas-pedas yah kritiknya, takut gak sanggup bacanya. *apa sich mau loe fhara*. Hehehehehehehehehe
CEKIDOT!!!!!
Aku adalah seorang remaja putri yang baru akan menginjakkan umurku di 17 tahun. Fhara Fadhilla, itu adalah nama Indonesiaku. Dan kim Hyara adalah nama Koreaku. Kedua nama itu aku miliki karena aku blasteran Indo-Korea dan aku lahir di Korea tetapi masa kanak-kanakku ku habiskan di Indonesia. Appa ku adalah orang Indonesia asli tapi umma ku adalah orang Korea yang lumayan fasih dalam berbahasa Indonesia. Ini adalah perjalan hidupku yang di takdirkan di negara yang tak ku kenal yang kemudian aku sukai dan mengenal dan mencintai seseorang yang tak ku kenal sampai sekarang.
Aku lahir di Korea, tapi belum genap setahun umurku, appaku yang notabenenya adalah orang Indonesia membawaku dan ummaku kembali ke Indonesia. Negara yang memberikan ku banyak teman walaupun juga memberikanku musuh. Ya…….layaknya anak kecil yang masih senang berantem, ngambek, n nangis, maklum aku lebih banyak bermain dengan anak cowok daripada anak perempuan. Mereka terkesan manja padahal aku sendiri juga manja, bahkan sangat…sangat…dan sangat manja. Jadi, aku mencari sosok chingu yang bisa memanjakanku *egois bgt yah*.
Saking seringnya aku bermain dengan anak2 cowok aku tidak mengenal yang namanya drama romantic. Yang aku kenal Cuma film action. Bahkan aku tak pernah mengingat negara asal ibuku, Korea yang merupakan negara romantic. Aku tidak pernah tertarik dengan yang namanya Korea, lebih tepatnya aku tidak pernah mengenal negara itu bahkan aku tidak tau kalau ternyata negara itu ada di dunia ini *maklum, belum ada pelajaran geografi waktu SD dan aku gak suka belajar sejarah*. Aku memang memanggil kedua orang tuaku dengan sebutan appa dan umma walaupun aku tak tahu kata itu berasal darimana. Mereka yang mengajariku memanggil mereka dengan sebutan itu.
Semuanya berubah saat aku berumur 12 tahun. Bukan karena aku mulai mencoba berteman dengan anak2 cewek lainnya atau mulai menonton drama romantic tapi karena aku diharuskan pindah ke suatu tempat yang sama sekali asing bagiku. Meninggalkan teman-temanku dan meninggalkan sekolah SMPku di Indonesia yang baru setengah tahun kujalani dan meninggalkan negara yang sudah kuanggap adalah darahku. Ya, aku harus mengikuti kepindahan appa dan umma yang pindah tugas ke negara itu. Semuanya terasa berat bagiku untuk menerimanya.
Aku hanya bisa memohon dan merengek agar kepindahan kami dibatalkan
Again and again setiap dia, appaku, mulai meninggikan suaranya, aku tak sanggup lagi berkata apa-apa. Yang aku sanggup lakukan hanya berjalan keluar dari pintu kamar itu menuju kamarku sendiri untuk mengambil koper yang sudah di isi penuh oleh pembantu kami, seperti yang dia suruhkan. Oh iya, masalah nama kim hyara, aku awalnya gak suka di panggil dengan nama aneh itu tapi karena appa dan ummaku tak pernah mendengar protesku akhirnya telingaku mulai terbiasa mendengarnya dan otakku mulai terangsang saat nama itu disebutkan.
…..Sesampainnya di Korea….
Aku tak menyangka Korea tak seburuk yang ku pikirkan. Aku tinggal di Seoul, ibukota negara ini. Tapi nampaknya aku tidak disambut baik di awal kedatangan ku. Bagaimana tidak, baru saja aku menginjakkan kakiku di bandara negara ini, aku sudah mendapat tabrakan oleh seorang anak cowok yang sepertinya seumuran dengan ku, aku masih 12 tahun waktu itu.
Anak itu hanya mengatakan 2 patah kata dan berlalu begitu saja sambil memegangi kaki kirinya yang diperban rapi “oh, mianhe”.
“Dasar gak punya sopan santun, blom minta maaf dah pergi” sontak aku mengatakan hal itu dengan kesal dalam bahasa Indonesia
Ayahku, oops….appa ku yang melihat kejadian itu dari awal hanya menertawakanku. Aku hanya berdiri terdiam dan menampilkan wajah polosku saat melihat tingkah appa ku yang aneh itu.
Dengan santainya appaku bilang “mianhe itu artinya maaf. Makanya belajar bahasa korea biar nyambung ngomongnya”
Omongan itu berhasil memerahkan mukaku. Walaupun mungkin orang-orang yang ada di sekeliling kami tidak mengerti apa yang kami bicarakan tapi yang namanya diketawain di tempat umum tetap aja bikin malu.
Sesaat aku marah sama anak itu yang sepertinya datang dari negara Jepang dan sudah fasih berbahasa Korea karena sudah membuatku merasa bodoh, tapi……..tatapan matanya yang sipit selama 5 detik sukses membuat aku tak bisa melupakannya dan sukses pula melunturkan amarahku. Aku tidak mengerti karena untuk pertama kalinya aku merasa deg-degan saat melihat mata seorang cowok.
Ada yang membuat aku tertarik dengan matanya, aku melihat ada ketulusan dan kepolosan dari mata itu. Samar-samar aku mendengar dia dipanggil ‘Hyu’ oleh seorang wanita yang mungkin adalah ibunya, aku tidak begitu jelas mendengarnya karena ada pesawat yang mulai take off dan suaranya yang bising membuyarkan pendengaranku. Dan satu hal lagi nampaknya dia sudah terluka parah di bagian kaki kirinya. Balutan perbannya cukup meyakinkanku tentang luka yang lumayan serius dikakinya.
Sejak kejadian itu, aku bertekad untuk menemukan anak itu lagi. Cinta partamaku yang terjadi saat pertemuan pertamaku dengannya selama kurang dari semenit yang ajaibnya menyihirku untuk setia mencarinya. Karena itu, aku dengan semangat mengikuti les kilat bahasa Korea disini. Dengan satu tujuanku, menemukan cinta pertemuan pertamaku. Itulah awal mulaku menemukan sesuatu, lebih tepatnya seseorang yang menjadi tujuanku dan alasanku tetap bertahan di negara ini sampai umurku sudah hampir 17 tahun seperti saat ini.
Tak terasa, sudah hampir 4 tahun aku berada di negara ini, dan tak terasa aku sudah mencintai Mr.hyu (sebutanku untuk anak Korea Jepang itu) selama itu juga. Ini adalah tahun kedua aku di SMU Seoul *adakah nama SMA kaya gitu di Seoul, Korea?*, 2 tahun lagi aku akan menjadi mahasiswi. Tapi sampai sekarang aku belum menemukan Mr.hyu ku. Mr. hyu yang membuatku mencintai matanya. Bukan hanya menyukai dan mencintai matanya, tapi aku mencintai sosoknya.
Mingggu pertama masuk kelas 2 SMU, sekolahku kedatangan 2 murid baru. Aku mendapatkan kakak kelas yang tampan dan juga teman duduk di kelas yang lumayan gelo alias gokil plus narzis. Semakin lama aku semakin akrab dengan anak gelo itu yang aku panggil Hyuk oppa. Walaupun usia kami hanya berbeda 1 bulan, tapi tetap aja dia lebih tua dariku. Aku sering sekali pulang bareng dengan hyuk oppa, makan bareng dan ke mall juga bareng. Saking dekatnya, aku biasa curhat sama dia tentang kekagumanku dengan tampan Kyuhyun oppa. Hyuk oppa pastinya sudah tau betul betapa aku mengagumi orang itu. Tapi 1 hal yang dia tidak tahu. Alasan utama aku mengaguminya karena namanya adalah Kyuhyun. Aku hanya menduga dia adalah Mr. Hyu ku yang sudah 4 tahun kucari.
Oh ya, selain Hyuk oppa, aku juga punya satu sahabat lagi. Namanya Heewon. Dia sama dengan ku. Memiliki darah Indo-Korea. Dengan Heewon aku benar-benar tidak memiliki rahasia. Berkat kedua sahabat ku itu aku saling berkenalan dengan Kyuhyun oppa. Cukup lama kami pendekatan *maaf ya istrinya-istrinya kyuhyun oppa*, namun ketika saat-saat yang kunantikan tiba, yaitu kyuhyun oppaku mengatakan “sarangheo Kim Hyara” dengan reflex hati kecilku menguasai otakku. Aku hanya sanggup berkata “aniyo….mianhe oppa, aku tidak bisa”.
Aku menyadari betapa bodohnya aku mengatakan itu dan melepaskan orang yang aku kagumi, orang yang tampan, baik, dan romantic seperti Kyuhyun oppa. Tapi hati kecilku tak dapat aku sepelehkan. Hati kecilku menolak dia, hati kecilku mengatakan “aniyo…, dia bukan Mr. Hyu mu”, hati kecilku mengatakan “dia bukan untukmu”. Entah yang kulakukan benar atau tidak dan walaupun aku merasa menjadi babo dan menyesal tapi ada satu rasa yang tak bisa aku ungkapkan mengapa rasa itu bisa hadir. Ada rasa lega.
.
Dan benar saja, ternyata selama ini sahabatku sendiri, Heewon, mencintai Kyuhyun oppa. Kini aku mengerti, mengapa hati kecilku menolaknya. Hampir saja aku menyakiti hati seorang sahabat yang telah rela menyumbangkan waktunya untuk mendengarkan curhatanku, mengorbankan hatinya dengan melihat aku sangat dan sangat dekat dengan seseorang yang dia sayangi dan mengikhlaskan saran-saran dan tips-tipsnya kepadaku agar aku bisa dekat dengan orang yang dia cintai. Mianhe chingu, tapi aku tidak bisa menerima semua kebaikan mu itu. Itu terlalu banyak untukku. Sekarang giliranku yang melakukan sesuatu untuk mu, tentunya untuk menyatukan mu dengan Kyuhyun oppa.
Keputusanku untuk menghindari Kyuhyun oppa dan mengikhlaskannya untuk Heewon membuat hubunganku dengan Hyuk oppa menjadi lebih dekat daripada sebelumnya. SMU Seoul mengadakan acara perpisahan kakak kelasku. Termasuk Kyuhyun oppa. Di acara itu Kyuhyun oppa menyatakan cintanya kepada Heewon diatas panggung saat Kyuhyun oppa telah selesai menyanyikan lagu “Let’s Not”. Kyuhyun oppa menuruni stage dengan membawa setangkai bunga mawar merah dan diiringi alunan piano dari Siwon oppa, salah satu seniorku yang juga sahabat Kyuhyun oppa yang sangat pandai menarikan jarinya diatas anak-anak piano. Malam itu adalah malam teromantis yang pernah aku lihat walaupun bukan untukku lagi tapi tak ada rasa iri dihatiku. Aku yakin siswa-siswa cewek yang hadir malam itu akan merasakan keirian yang sangat, bagaimana tidak, salah satu pangeran tampan mereka menyatakan cinta seperti seorang pangeran melamar sang putri *so sweet, baikkan q kepada Heewon*.
Namun adegan romantic itu tak dapat berlangsung lama. Aku harus menarik Heewon ke arah belakang panggung. Kami harus mempersiapkan diri kami sebelum perfom di atas panggung. Yah…saat itu giliran aku, Heewon dan Hyuk oppa yang perfom. Menampilkan dance kami bertiga. Maklum, Hyuk oppa sangat lihai dalam menggerakkan tubuhnya di segala tipe music. Dan kami berdua ‘Heewon dan aku’ hanya ibarat penari latanya saja.
Satu incident terjadi diatas panggung. Tapi bukan incident itu masalah utamanya, tetapi mengenai siapa yang menolong ku. Ya… Hyuk oppa yang menolongku. Menggendongku dari stage turun kebelakang panggung. Satu hal yang tersisa diingatan ku. Matanya. Mata itu……mata yang mampu membuatku mengingatnya bertahun-tahun. Saat itu juga aku sadar betapa babonya aku. Orang yang selama ini aku cari ternyata adalah orang yang tak pernah kuduga sebelumnya. Karena mata itu aku kembali menyayanginya.
Berat rasanya menyukai dan mencintai seseorang yang sudah memiliki status sahabat. Jujur….aku ingin status sahabat itu berubah jadi kekasih. Tapi apa dayaku, rasa takutku akan kehilangannya jika dia mengetahui perasaanku yang sebenarnya mengalahkan rasa cintaku. Hanya itu yang ku takutkan. Rasa cintaku terhadapnya menjadi benteng raksasa yang memisahkan kami. Tentu saja Heewon mengetahui semuanya, tapi aku melarangnya untuk berkata sepatah kata pun tentang ini.
Setahun aku memendam perasaan ku ini kepada hyuk Oppa, dengan harapan rasa ini akan hilang dengan sendirinya. Tapi kenyataannya berbeda dari yang ku harapkan. Aku semakin cinta dengan Hyuk oppa.
Semakin hari aku semakin bingung denan perasaanku, sampai suatu hari Hyuk oppa jadian dengan seorang wanita yang lebih tua setahu darinya. Heoyeon, itulah nama gadis itu. Jujur aku merasakan ada sesuatu yang menekan dadaku hingga menjadi sesak saat ku ketahui semua itu. Tapi mungkin aku akan lebih baikan seandainnya Hyuk oppa mendapatkan gadis yang lebih baik. Aku tidak bilang gadis yang lebih baik itu adalah aku, tapi siapa saja boleh asalkan dia bisa setia membina hubungan cukup dengan 1 orang saja. Heoyeon terkenal sebagai playgirl. Tapi entah bagaimana Hyuk oppa bisa berpacaran dengannya.
Aku tau itu semua bukan urusan ku dan aku tak memiliki hak untuk melarangnya berpacaran dengan siapa pun. Makanya aku hanya membiarkannya begitu saja walaupun sakit rasanya. Tapi aku tidak pernah berniat sedikitpun untuk melepaskan Hyuk oppa. Terbukti, frekuensi Hyuk oppa jalan dengan ku lebih banyak daripada frekuensinya jalan dengan Heoyeon itu. Aku tau aku jahat. Tapi inilah caraku mencintai Hyuk oppa tanpa memilikinya. Lagi pula aku tidak merasa bersalah karena gadis itu adalah Heoyeon.
Tak sampai 3 bulan Hyuk oppa berpacaran dengan Heoyeon, mereka putus. Tak bisa di pungkiri, aku bahagia akan hal itu. Apalagi raut muka Hyuk oppa tidak pernah memperlihatkan wajah sedih akibat putus dengan Heoyeon. Tapi aku tetap saja menikmati jalan dengan hyuk oppa dengan status sahabat tapi lebih masuk akal bila dikatakan Teman Tapi Mesra. Semua perhatian yang bisa ku berikan telah ku berikan pada Hyuk oppa. Aku gak peduli dengan semua perasangka orang-orang disekitar kami. Sampai suatu saat, Hyuk oppa menyatakan cintanya pada ku tapi kedengaranya seperti ucapan perpisahan.
“dongsaeng….aku mau mengatakan sesuatu. Bolehkan?” kata hyuk oppa di dalam mobilnya tanpa memalingkan sedikitpun mukanya dihadapanku.
“ada apa oppa??” ucap ku dengan raut muka yang sedikit berharap akan ada kata-kata yang akan membuat ku bahagia. Jantungku mulai berdegup cepat. Tapi hyuk oppa mendadak menjadi sosok pendiam. Menjadi oppa yang lain dari biasanya hari ini.
“jujur…aku mencintaimu. Dari awal kita bertemu.” Ucapnya datar.
Apakah dia mengingatku. Jantungku mulai berdetak tak karuan. Keringat dingin mulai bercucuran. Aku ingin mendengar kata-kata tadi diulang kembali untuk memastikan aku tak sedang dalam keadaan bermimpi. Tapi aku tak berani memintanya untuk mengulangi kata-kata itu lagi.
“aku juga op..oppa. Sejak pertama bertemu denganmu 5 tahun yang lalu aku sudah mencintai mu”
“apa maksud mu???”Hyuk oppa akhirnya memandangku juga yang dari tadi duduk disampingnya tapi dengan tatapan yang heran.
“hari pertama aku sampai di Korea 5 tahun yang lalu kita bertabrakan di bandara. Bekas luka di kaki kirimu meyakinkan ku. Kaulah Mr. Hyu ku” aku tersenyum saat menceritakan smuanya karena pada akhirnya dia mengetahui semuanya.
“sincayo?” matanya mulai memandangku dengan tatapan yang berkaca-kaca. Tak sempat aku menjawab pertanyaannya, secara spontan dia mengkissue bibirku. Aku tak menyangka dia akan melakukan hal tersebut. Aku menutup mataku. Merasakannya perlahan. Tiba-tiba dia melepaskan ciumannya.
“waegurae?” aku heran melihat sikapnya hari ini.
“mianhe yo. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Tapi aku tak bisa berada disampingmu untuk waktu yang lama. Aku harap kamu menjaga dirimu baik-baik. Ingat cari oppa baru yang baik yah, tapi jangan pernah cari penggantiku. Karena aku takkan pernah tergantikan. Secara kamu gak akan pernah dapat cowok yang baik, cakep, jago nyanyi, pinter dance, plus bisa dengan lapang dada mencintai cewek gaje seperti mu. Hahahhahaha” raut mukanya mendadak berubah.
“ich….hyuk oppa, kau sangat narsis, tapi kenapa kau berpesan seperti itu padaku?? Kau membuatku takut saja”
“molla!!”
“aigoo…aku sungguh tak beruntung mencintai orang aneh seperti mu”
“hahahaha…justru kamu berutung mendapatkanku, karena kamu akan menjadi gadis terakhir untukku. Kamu harus janji satu hal padaku?”
“apa oppa??”
“jangan pernah menangis. Apapun yang terjadi. Kamu harus tetap tersenyum seperti saat ini. Janji??”
“aku janji oppaku yang bawel”
“tapi perfect. Hahahhaa. Ayo kita jalan-jalan sekarang sampe pagi. Setuju??”
“hahahaha…asyik….Let’s go oppa!!!”
Hari ini hari yang sangat bahagia dalam hidupku. Hari yang selama bertahun-tahun kunantikan. Demi hari ini aku rela menanti berabad-abad pun.
Dua hari kemudian aku menunggunya dirumahku. Kencan kami secara resmi akan kami lakukan hari ini. Semuanya telah kupersiapkan tadi siang. Aku menunggu kedatangannya dengan perasaan degdegan. Kenapa perasaan ini muncul. Kenapa aku segugup ini. Padahal untuk pergi makan malam saja seperti yang akan kami lakukan sebentar bukan hal yang pertama kali kami lakukan berdua. Aigoo….kenapa sich jam itu mendadak lambat sekali menunjukkan pukul 7.00 pm.
Pukul 6.30 pm, 6.45 pm, 6.50 pm, 6.59 pm. Kenapa hyuk oppa belum datang juga. Mungkin dijalan sedang macet.
Pukul 7.30 pm, omona…aku gak tenang menunggunya. Aku mulai gelisah. Bahkan telponkupun tidak dia angkat.
Pukul 7.49 pm, ponselku mulai berbunyi. Aku melihat nama ‘Mr. Hyu’ dilayar ponselku. Dengan semangat dan bahagia aku mengakatnya tapi justru suara cewek yang aku dengar.
“selamat malam, benar ini dengan nona hyara??”
“benar. Kalo boleh tau ini dengan siapa yah saya berbicara? Dan kenapa anda memakai ponsel Hyuk oppa??”
“saya seorang suster di rumah sakit Seoul. Saya milihat list terakhir yang pemilik ponsel hubungi adalah nomor anda. Pemilik ponsel ini mengalami kecelakaan dan dirawat di rumah sakit ini. Kondisinya sedang kritis sekarang. Mohon anda…….”
Aku tak sanggup lagi mengucapkan apa-apa. Air mataku mulai tak terbendung. Tak kuhiraukan ponselku yang terjatuh dari tanganku dan tak kuhiraukan lagi ucapan suster itu lagi. Dipikiranku sekarang bagaimana caranya aku bisa sampai di rumah sakit dengan cepat. Kuberlari keluar rumah, mencegat taksi yang entah pesanan siapa. Satu harapanku hari ini. Tolong hari ini hanya mimpi panjang yang akan segera berakhir. Aku ingin semua berita yang kudengar hanya bagian dari mimpi panjangku. Bahkan akau rela menjadikan kebahagiaanku hari ini sebagai mimpi asal berita tentang kecelakaan hyuk oppa juga menjadi sebuah mimpi. Aku rela Hyuk oppa tidak menjadi milikku seperti tahun-tahun sebelumnya asalkan dia tetap berada disampingku.
Aku tiba dirumah sakit, aku bertemu dengan hyuk oppa tapi aku tidak bisa mencegahnya pergi. Di telah pergi meninggalkanku. Meninggalkanku dengan semua kenangan manis yang jika ku ingat kembali hanya akan menjadi mata pisau yang tajam. Mianhe oppa, aku tak bisa memegang janjiku. Air mataku tak bisa kubendung. Aku benci dirimu yang pergi meninggalkanku. Mengapa kau tak membawaku pergi bersamamu?? Mengapa kau benar-benar pergi?? Mengapa semua ini bukan mimpi?? Aku ingin hari ini tidak akan ada.
Mr. Hyu ku yang menghilang bertahun-tahun telah kutemukan dan menjadi milikku beberapa hari yang lalu. Tapi aku harus membayar mahal akan semua kebahagiaan itu. Bahkan sangat mahal. Mr. Hyu ku sekarang telah pergi untuk selama-lamanya. Harga yang sangat mahal yang harus kutangguhkan saat ini. Yang kini bagian dari dirinya yang dapat kulihat hanya bunga mawar yang telah layu yang harusnya ia berikan langsung kepadaku hari itu dan sebongkah tanah yang tak dapat membuatku tersenyum lagi dan tak dapat mengajariku dance lagi dan tak dapat menciptakan lelucon-lelucon gajenya.
Sarangheo hyuk oppa. Lihat aku dari tempat mu yang jauh yah, aku akan disini dengan tersenyum terus seperti janjiku. Tapi aku tak akan mencari oppa baru sepertimu. Karena memang tak ada oppa sepertimu di dunia ini. Tunggu aku oppa. Suatu saat nanti, aku akan mengunjungimu disana, kita akan bersama-sama lagi. Sediakan kerajaan yang indah untuk permaisurimu ini yang cepat atau lambat pasti akan menyusulmu . Dan saat itu tiba, kamu harus tetap menjadi oppaku yang dulu. Oppa yang perfect. ^^. Sarangheo dari permaisurimu, kim hyara yang akan selalu mencintaimu, sampai kapanpun.
Hahahaha…mian kalo gaje bgt tapi thanks kalo dah mau baca.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
everlasting friend > fhara eunhyuk<